Suatu Ketika…

on

Apa yang akan kamu lakukan disaat dirimu taklagi menikmati hidup seperti yang selalu kau perjuangkan selama ini. Disaat fikiranmu dihinggapi kenyataan suram yang menyelimuti, dihadapkan pada beberapa pilihan yang membuatmu tidak mampu untuk menentukan keputusan.

Rasa letih dan lelah untuk berjuang melanda fikiranmu, kala hati tak lagi ada ketegasan dan semua sudah tak lagi berarti dimatamu. Hampa dan hambar kini menemani hari harimu..

Apalagi terbesit suatu fikiran menyesal telah singgah dan hidup disini, dikota ini. Disini bukan lagi tempat yang nyaman untuk meneruskan perjuangan hidupmu. Ingin pergi dari kota ini, ingin pergi dari semua kenangan indah dan pahit yang pernah kau lalui disini. Ternyata apa yang pernah kau jalani selama ini berujung pada ketidak pastian yang harus kau hadapi.

Bukan berkata malang pada nasib,sial pada kenyataan..tidak pantas. kau masih memiliki Tuhan, Sang Pencipta, Pemberi Segala yang ada dimuka bumi ini, tempatmu mengadu dan meminta, mencucurkan air mata, curhat atas segala asa dan nestapa. Bukan pula menyesal telah di beri hidup pada keadaan yang tak seindah keinginanmu. Bukan membenci kepada diri sendiri… karena akan berujung kepada dosa. Kau mengerti bahwa apa yang tengah kau hadapi saat ini adalah buah dari kelalaianmu selama ini. Lalai pada Tuhanmu, lalai akan kewajibanmu, lalai pada diri sendiri, lalai membiarkan waktu membutakan matamu.

Padamu memang tiada tempat bercurah rasa, karena selama ini kau terbiasa menjalani sepandai dirimu sendiri, tiada pernah mempunyai sahabat dekat tempat kau berhibur dan bersenda gurau, karena langkah hidupmu sudah kau pilih sejak dahulu.

Orang yang terdekat yang pernah menjadi sandaran hidupmu perlahan mulai jauh dimatamu, kau menghadapi kekecewaan berulang yang pada akhirnya mengaburkan perasaan dan harapanmu. Apa yang dulu pernah kau rancang bersamanya kini kering bagai jerami dipadang ilalang. Gersang dan setiap waktu dapat saja terbakar menghitam. Padamu harapan itu telah berbalik menjadi sebuah kesuraman.

Kau menemukan perjalanan hidup yang panjang penuh cerita dan gejolak. Hidupmu bukan tenang seperti air mengalir ditepian sawah disamping rumah nenekmu, bukan juga seperti air laut tenang yang tiada badai, namun seperti roda pedati yang berputar berat menggelinding turun naik. Semua telah kau nikmati, semua telah kau rasakan..

Bukan tidak bersyukur pada Sang Pencipta Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui..

Kau hanya belum selesai menjalani ujian ujian didlm hidup ini.

Seharusnya kau tak menyerah… seharusnya kau tak menarik diri untuk mundur. Seharusnya..

Tapi kau merasa sangat lelah untuk menembus derasnya ujian, …

Ternyata kau masih beruntung…ada buah hatimu yang selalu memandang penuh harap pada dirimu, bola mata mereka begitu menyiratkan kecintaan yang mendalam. Suara mereka yang memanggilmu menyentak kekecewaanmu. Menyiratkan harapan padamu untuk tidak pernah padam dalam gelap, untuk terus bersama mereka, walau kemanapun langkah kaki akan kau teruskan…

Temani mereka……, iringi perjalanan hidup mereka agar kelak mereka tidak seperti dirimu, agar mereka nanti siap menjadi pejuang sejati didalam mengarungi kehidupan yang semakin deras dan penuh perjuangan. Takkah kau mau melihat mereka lebih baik dari hidupmu saat ini?  Hanya engkau yang bisa untuk mereka, mampu memberi apa yang mereka butuhkan.. cintai hidupmu, cintai anak2mu…kembalilah kepada hati dan jiwamu yang selalu penuh ketegaran dan perjuangan…

Obat gundah dikala kesakitan…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s