KABUT ASAP DI JAMBI

Sejak Bulan Puasa Ramadhan Bulan Juli 2015 lalu, Jambi dan sekitarnya sudah mulai jarang disirami air hujan. Panas terik yang menyengat sepanjang hari menemani ummat Islam yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. kegembiraan sedikit timbul usai lebaran dimana hujan mulai turun sesekali,namun  itu belum cukup untuk memberi air pada sumur masyarakat yang mulai mengering, hingga keadaan semakin parah  pada awal Agustus,  kemarau yang  berkepanjangan mulai membawa asap. Asap tebal yang bersumber dari hutan/ lahan kering yang dibakar atau ikut terbakar. Sebagian besar wilayah Jambi merupakan lahan perkebunan . Wajar saja, kebakaran ini tak mudah untuk dipadamkan, karena struktur tanah di Propinsi Jambi merupakan lahan gambut yang mudah terbakar dan menyimpan api di kedalaman beberapa meter. Selain itu hutan yang dibuka penduduk untuk menanam pohon kelapa sawit, pohon karet dan hutan bebas sudah kering dan meranggas karena tak pernah lagi terkena hujan. inilah yang menyebabkan asap. Asap menyelimuti keseluruh pelosok di Propinsi Jambi. “dinikmati”  oleh semua elemen masyarakat.

Sebagai masyarakat awam, kami sebenarnya tak begitu memperdulikan apakah lahan yang terbakar ini sengaja dibakar atau memang ikut terbakar. Kami mulai terganggu oleh sumber penyakit yang bernama ASAP. Karena skalanya sudah diambang batas, sangat berbahaya untuk kesehatan, mengotori udara dengan menebar debu debu hasil pembakaran serta membuat semua orang mulai panik dan ikut bicara. Berbagai ragam komplain, kemarahan, keluhan di media sosial bermunculan tanpa batas, namun hingga hari ini Asap semakin tebal dan tak terkontrol. Hampir satu bulan anak sekolah diliburkan secara acak sesuai kondisi cuaca, mengakibatkan kerugian pada dunia pendidikan. Selama masa libur anak anak yang tidak mampu dikontrol oleh orang tua mereka akan tetap keluar rumah dengan segala macam aktivitas yang bersifat kurang positif, misalnya : menonton bersama teman2, pergi ke tempat taman hiburan, bermain main menghabiskan hari di Mall dan ajang permainannya, bermain ke tempat karaoke yang banyak dijumpai di kota Jambi tanpa terkontrol. Orang tua tidak mampu menolak jika anaknya tidak bersekolah karena alasan cuaca, namun sebagian dari orang  tua mulai direpotkan dengan berbagai aktifitas anak yang kurang baik dan tidak bermanfaat.

Kami mengetahui bahwa alasan pemerintah untuk meliburkan anak didik karena pihak sekolah tidak dapat bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu hal seperti penyakit ISPA yang menular dll pada  waktu kegiatan belajar mengajar berlangsung. sungguh ironis negara kita ini. Disaat kita sangat membutuhkan calon penerus anak didik yang berkualitas dan mampu untuk membangun negara dikemudian hari. Pendidikan harus berkelanjutan tidak dapat sepotong sepotong bahkan terkesan kurang penting. Hingga kini belum ada terdengar solusi dari pemerintah untuk proses darurat dunia pendidikan. Pemerintah masih belum bergeming, diam dan terkesan tak mampu mengambil tindakan didalam bencana ini. Inilah cermin ketidak kreatifnya pemerintah untuk mencoba keluar dari krisis pendidikan saat ini. Kami berpendapat seharusnya ada tindakan SIGAP untuk memberikan fasilitas khusus  terhadap sekolah dalam melaksanakan belajar dan mengajar dengan pengawasan yang ketat. kalaupun ada anak yang terkena penyakit ispa dan lainnya,tentu dapat segera diberi pertolongan dan diselamatkan ke UKS atau ke puskesmas, sekolah ditutup diberikan penerangan lampu dan kipas angin atau cara lain yang penuh perhatian. bukankah tugas kita semua untuk mengurus anak didik calon penerus bangsa bermutu yang akan diharapkan mampu menjadikan Indonesia menjadi negara yang disegani dimata dunia.

Hanya dengan alasan tidak berani mengambil resiko atas apa yang bisa saja terjadi pada anak anak didik, untuk apa penjaga sekolah dan guru guru yang ditugaskan?

Bukankah bencana Asap ini hanya berlangsung dalam beberapa waktu saja, tidak akan terjadi untuk selama 12 bulan. Dimana letak salahnya apabila saat ini seluruh tenaga didik dan medis ikut bergotong royong untuk tetap mengutamakan pendidikan kepada anak anak penerus bangsa ditengah bencana yang melanda suatu wilayah, bukan keseluruhan Indonesia raya.

Biaya besar tentu akan dibutuhkan, karena pendidikan bukan masalah sepele. Tentunya dengan keseriusan pemerintah menangani bencana akan menimbulkan sikap tersendiri serta kepatuhan terhadap pendidikan kepada anak anak kita?. mereka akan mengikuti pola kita menilai sesuatu dari keseriusan kita menghadapi masalah.

Hanya pemikiran sederhana ini yang membuatku tak berhenti menggelengkan kepala terhadap kondisi negara ini. Belum lagi masalah perekonomian yang merosot, penerbangan yang ditutup total selama berminggu minggu, mengakibatkan para calon penumpang harus menggunakan armada darat untuk dapat terbang melalui Palembang menuju ke kota lainnya.

Kami sebagai masyarakat awam, sangat pelik dan pusing menghadapi keadaan ini, selain kami harus tetap waspada untuk menjaga kondisi kesehatan diri sendiri dan keluarga. Saat ini kami mulai kehilangan akal untuk melakukan berbagai aktifitas aktif kreatif. ini akan terasa sekali terutama di sektor masyarakat ekonomi swasta yang hanya mengandalkan mata pencaharian sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup.1536560_10204187796649661_6969001135692826845_n 11024763_10206296787676359_4178714359504523137_n 11147202_10153597724497278_4059080625629663826_o 11221453_1221497647875837_3447482309168238818_n 11232020_10203615903758651_7778504769401444755_n 11987145_10205213745082949_1157280403462931840_n 11987212_1221497574542511_1737018748991926850_n 12001027_10205129427695067_5716677852219303189_o 12002992_10205140252845689_8032082380703552570_n 12006138_10205213788484034_8939139057194833540_n 12009666_1205450499480596_4117013299186650351_n 12009819_10201062956851656_6463089367795034707_n 12011294_1236959359664542_1072630838450400996_n 12027498_10201225026703957_4293007479054411415_n 12027533_1123112334384170_8419289404345874018_n 12027567_1529350547101497_3340828902277468529_n 12027640_1221497517875850_3287312043601566039_n 12032224_1236613079699170_8822433918103455805_n 12032958_1221497624542506_1484013187152941119_n 12033647_10205261169872961_1277953096_n 12036662_1122663427762394_2237122811188481357_n 12036731_10205173316712265_962267251589676882_n 12038562_10201225026183944_5822266598522679012_n 12039342_10200952113922903_4427032984871797425_n 12039367_826927977422263_5951290402065755757_n 12039445_10206296787516355_8142222513523362049_n 12041960_10205261109831460_1552336302_n 12042836_1221497674542501_4393093038625144837_n 12046570_10207237467676372_2762886981383068009_n 12046987_10201225026983964_5071277757091754429_n 12047052_756584837802713_6838251010090068844_n 12049168_931009440326699_5377580651293884097_n 12049175_1221497551209180_7058773385709850669_n 12049188_10206296787916365_968765402100704465_n 12049242_10208216939403782_5270717282351404527_n 12049683_1221497604542508_3323514194435577307_n 12059951_10205261171913012_1474697202_o (1) jambiindependent_com_27_asap

Kami sangat kecewa dengan keadaan ini, semoga bencana seperti ini tidak akan terjadi pada masa yang akan datang dan diharapkan segera diatasi sebelum kita terus dicemooh negara lain sebagai negara yang memiliki pemimpin tak layak untuk pemimpin negara dengan wilayah besar dan  memilki kekayaan alam dari sabang hingga merauke.

Berikut saya lampirkan beberapa foto mengenai asap yang saya dapatkan dari media sosial teman teman.

semoga bermanfaat.

2 Comments Add yours

  1. pustakalontar says:

    Hi – Kak Nila , sangat sedih dengernya Jambi sejak diselimuti asap. Sehat selalu, salam buat keluarga ( JL )

    1. ceritanila says:

      Iya mas, inilah musibah buat kami. Bersyukur anak2 baik2 saja.
      dan memang semua masih menahan diri serta berusaha tetap calm.
      salam juga ya mas buat keluarga dirumah.
      aku butuh selalu supportmu. sepi tanpa teman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s