Seandainya Aku Masih Hidup Hingga Malam Nanti

Seandainya Aku Masih Hidup Hingga Malam Nanti
By Made Teddy Artiana

Seorang pria bertopi putih dan jaket hitam berjalan melintas. Ditangannya terlihat tas beroda yang terasa begitu berat. Berjalan memasuki sebuah ruangan dan tak lama kemudian..BUUUMMMMM !!!!

Entah sudah berapa kali video ini diputar oleh berbagai stasiun TV. Rasanya hampir setiap orang di Indonesia paling tidak pasti pernah menyaksikannya minimal satu kali. Pemboman Ritz Calton dan J.W. Marriot.

Tetapi baru kemarin malam aku melihat sisi lain dari video itu. Dan itu membuatku terpengarah…

Beberapa saat sebelum kejadian itu. Segalanya tampak biasa saja. Orang lalu lalang diloby. Penjaga pintu menyapa tamu dengan ramah. Demikian juga dua orang wanita, yang sedang bercakap-cakap begitu riang, berjalan menuju restaurant. Lalu seorang pria, dalam video yang berbeda, berbaju putih, bertubuh agak gemuk, berjalan mondar-mandir, kemudian perlahan-lahan seolah digiring berjalan kedalam restaurant dan tiba-tiba saja….BUMMMMMM !!!

Perhatikan ekspresi orang-orang itu.

Yang jelas, mereka semua sama sekali tidak memperkirakan kejadian itu. Asyik menjalani rutinitas dan tiba-tiba saja….maut merenggut. Tidak sempat berpamitan, tidak sempat mengucapkan maaf, dan tidak sempat memohon ampun.

Sebenarnya bukan hal yang baru. Sedang tidur-tiduran tiba-tiba saja ada pesawat nyasar yang menabrak rumah. Sedang asyik mengendara mobil eh ketimpa pohon yang tumbang. Sedang sarapan eh kena bom. Sedang ketawa-tawa eh ketimpa papan iklan. Main tenis kemudian kena serangan jantung. Dan selanjutnya…dan selanjutnya…skenario nya bisa jadi tak terbatas.

Siapakah yang dapat memperkirakan apa yang akan terjadi padanya satu menit kemudian dalam hidupnya ? Bahkan Mama Laurent yang biasa berkomentar : Si A akan begini, nanti begitu, besok beginu dan lain sebagainyapun pasti akan membisu, kalau saja diberi pertanyaan : “Ramalan Anda tentang hidup Anda sendiri bagaimana ?”. Seandainya dia tahu –tentunya dengan tidak menipu- aku akan berlari bugil mengitari Senayan !

Jika demikian,siapa yang dapat menjamin bahwa ia tetap masih hidup, satu jam kedepan ? Tidak ada.

Apakah benar hidup ini demikian rapuh ?

Bagi sebagian orang jawabannya adalah : ya ! Tetapi belum tentu buat yang lain. Banyak pula orang yang “dipanggil pulang” dengan cara yang mulia.

Sama sekali tidak bermaksud menghakimi siapapun. Tetapi jika seandainya aku mendapat kasih karunia untuk memilih, kiranya Ia mengijinkanku pulang dengan tenang. Setelah genap umurku, selesai tugasku dan dalam keadaan siap.

Takdir memang kadang terasa liar, bebas dan tidak berpihak. Easy come, easy go. Semau-maunya. Untunglah ada DIA, Sang Penguasa Takdir. Kehadiran Nya menjamin tidak akan ada yang kebetulan dalam hidup ini. Tidak ada.

Agaknya aku bukanlah pemilik sebenarnya diri ku. Hidup ini adalah milik-Nya. DIA lah pemilik tunggal : orang tua, istri, anak, tetangga, saudara dan teman. Pada saat Sang Pemilik ingin mengambilnya, maka tidak ada yang dapat mempertahankannya. Sehebat apapun dia berusaha.

Jadi seandainya saja aku masih bernafas detik ini, maka aku harusnya menghormati “kemurahan-Nya” itu. Setiap pagi harusnya aku sambut dengan sujud syukur.

Aku sewajarnya berusaha hidup menurut standard Nya. Berprestasi habis-habisan. Mengasihi istri, orang tua, keluarga, pembantu sedalam-dalamnya. Memberikan kontribusi sebesar mungkin bagi orang lain. Bukannya malah menyia-nyiakan hidup dengan kekawatiran, frustasi, dendam, iri hati dan segala yang menghabiskan waktuku dengan percuma. Benar-benar kesempatan yang harus digunakan sebaik mungkin.

Terima kasih TUHAN, jika selama ini Engkau masih bersabar menungguku berkubang dalam kebebalan. Maafkan ketidaktahudirian ku ini ya TUHAN. Terlalu sering aku memperlakukan hidup ini bukan sebagai anugrah luar biasa dari Mu. Memperlakukannya seolah aku adalah pemilik nyawaku sendiri. Memperlakukannya seolah-olah Engkau tidak tahu apa yang ku pikirkan, apa yang ku katakan dan apa yang ku perbuat.

Terima kasih jika selama ini pasukan malaikat Mu, tanpa aku sadari selalu berjaga-jaga atas ku. Memindahkan paku berkarat yang tergeletak dijalanku. Menggembosi ban mobilku, agar aku tidak melintasi jalan yang akan ditumbangi pohon itu. Membuat aku terlambat, agar tidak menaiki pesawat yang akan celaka itu. Semata-mata agar aku mendapat kesempatan “pulang” dengan selamat. ***

Catatan :

Tulisan ini kupinjam dari teman di milis, untuk kubagikan kepada teman2 ku sayang.
Aku tersentuh dengan tulisan ini ditambah kehilangan seorang sahabat yang selama ini tak sempat kujenguk,
Kesedihanku ditinggalkannya pergi membuat hati begitu muram. Menyesal tidak dapat bertemu dihari hari terakhir , aku begitu sibuk dan hampir melupakannya.
Maafkan aku Umi, aku kehilanganmu.
Kudoakan buat Umi Kalsum,
Semoga Amal kebaikannya selama di dunia diterima Allah SWT, dilapangkan kuburnya dan diampuni segala salah dan dosanya.
Semoga Allah menempatkannya diantara Ummat Nabi Muhammad lainnya, Amin.

One Comment Add yours

  1. en_me says:

    me insaf.. salamm cek nila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s