Old ‘n New With MyFamily

MENYAMBUT TAHUN BARUAN DI KAMPUNG

 

Mobil berjalan dengan tenang menyusuri jalanan menuju Kampungku di Kapuh Batipuh, Padang Panjang, melewati pemandangan yang menarik dan indah. Tidak kami rasakan lelah seperti perjalanan yang lainnya, mungkin karena bang Jaya yang menyupiri kami membawa mobil ini dengan nyaman. Terkadang kami berhenti dan duduk menikmati alam perbukitan yang dilalui. Dia baru kali ini ke Sumbar, ia  sangat mengagumi keindahan pemandangan alam sumbar. Seperti janji kami kepada anak anak untuk mengisi liburan kali ini di tempat yang berbeda dan lebih menarik. Ini kali pertama aku, suami dan anak-anak berpergian dengan kendaraan bersama sama. Biasanya kami bergantian bila hendak keluar kota karena kantor tak bisa ditinggal terlalu lama. Apalagi kali ini Bank juga liburnya cukup panjang.

Sementara itu suamiku duduk disamping bang jaya tampak terkantuk kantuk sambil menikmati alunan musik dari radio lokal kota yang kami lalui, Joy dan boy berbaring diatas kasur di bangku belakang, mereka tertidur lelap, tak perduli dengan perjalanan, mereka ingin cepat sampai dirumah neneknya.  Jam 6 subuh kami sudah tiba di kota Muara Bungo kemudian beristirahat sebentar menikmati angin pagi, membasuh muka yang terasa kering karena ac mobil. Perut terasa lapar, kami sarapan di kota perbatasan Jambi dengan Sumbar di Dharmasraya namanya. Disana penduduknya berbicara dengan dialog minang, terasa sekali budaya minang disana. Hari ini tanggal 31 Desember 2008 di penghujung tahun, memoryku mencatat kami ternyata masih diberi Allah waktu hingga menutupi tahun 2008 ini di sebuah kota kecil yang jauh letaknya dari tempat tinggal kami. Hati terasa senang berada di kota ini. Berhubung sebelum berangkat kami belum sempat ke bank, aku dan suami sempatkan mampir untuk melakukan transaksi pembayaran kredit card di bank mandiri sini dan menarik uang, asyik juga ternyata, ada bank yang bisa kami singgahi di perjalanan. Hmmm…perjalanan yang menyenangkan, dimana kami merasa ingin singgah kami akan berhenti dan menikmatinya. Tiada perasaan terburu buru atau dikejar sesuatu, walau ayah dan ibu sudah berulang kali menanyakan keberadaan kami melalui handphone. Tampaknya mereka sudah tak sabar menantikan kami berkumpul dirumah. Apalagi Puput adik bungsuku yang selalu mananyakan si Joy kecil. Betapa gembiranya dia mendengar kami mau pulang mudik. Jangan lupa bawa Joy ya Uni katanya.

Jam 12 siang tepat kami sudah memasuki kota Solok, sengaja kami berputar putar dan berkeliling dulu dikota ini. Kota yang terkenal dengan berasnya dan merupakan salah satu dari kota besar di Sumbar. Bangunan yang berdiri di kota ini biasa saja, tidak berbeda dengan yang lain, jalan raya juga tidak terlalu ramai. Rumah rumah penduduk tampak serasi dan bernunsa rumah adat dengan pola rumah gadang. Kami sempat makan di pasar solok, kemudian mampir sebentar ke kantor telkom mengaktifkan combo kartu flexi. karena flexi sudah masuk ke kampungku.

            Setelah makan siang kami masih belum meninggalkan solok, belum puas untuk melihat dan menikmati perjalanan keliling kota solok, luas juga kota ini. Rencananya pengin mampir ke Waterboom di Sawah Lunto, tapi terhalang waktu dan takutnya nanti terburu buru. Keluar dari solok kami melalui sumani dan danau Singkarak. Danau yang indah, hari sudah petang dan angin terasa kencang. Tampak air di permukaan danau berombak, artinya saat yang kurang bagus untuk mandi. Terpaksa kami hanya bisa menikmati pemandangan di tepian singkarak. Kami berhenti di ombilin melihat kapal yang mengitari danau singkarak,cuaca mendung  sisa hujan yang baru usai, ramai orang yang berkunjung kesini dengan berbagai kendaraan dari kota kota lain. hari sudah bertambah sore, badan mulai berkeringat tidak nyaman. Terasa mata sudah ingin tidur dan membaringkan tubuh seperti dirumah. Akhirnya jam 5 kami sudah sampai dirumah nenek. Aku menarik nafas lega, sudah tiba di desa ini, selesai meletakkan barang barang dan menyalami ibu, ayah, adik adik dan kerabat yang menyambut  kami, aku langsung pamit untuk mengitari rumah dan mencari aneka bunga yang tumbuh berwarna warni. Sambil duduk menikmati sekitar yang menarik  mataku, disinilah masa kecilku kuhabiskan, aku paling suka bergayut dipohon sawo di depan rumah ini hingga pahaku robek terluka karena terpeleset bermain. Pohon itu masih ada dan bertambah tinggi. aku tersernyum sendiri, mengenang masa lalu itu. Betapa bahagianya aku kala itu, dengan bebas berlari kesana kemari bersama teman teman. Dulu aku paling menyukai musim durian berbunga, bunganya kami rangkai dan dijadikan kalung. Kami bermain bidadari, terasa cantik bila aku dipakaikan kalung bunga itu. Aku akan menari dan berlenggak lenggok dengan gayaku yang centil,  dilain kesempatan anak laki laki bermain dengan pelepah pisang, mereka bermain perang perangan, dan kami yang perempuan jadi ibu ibu yang bertugas memasak makanan. Menggelikan… aku berlari bersama mereka mengitari sawah dan  tercebur ke Lumpur, pernah kakiku di hinggapi lintah. Betapa kerasnya lengkingan ketakutanku saat itu. Akhirnya lintah itu diambil ayah dan dimasukkan ke botol yang berisi minyak tanah. Paling menakutkan jika dihinggapi lintah, darah kita dihisapnya dan susah lepas dari kulit. Terkadang kami bermain layang layangan di sore hari, sambil meneriaki monyet yang sedang memetik buah kelapa atau mencari buah sumani yang manis atau mengejar bebek, ayam peliharaan nenek untuk disuruh kembali ke kandang karena hari sudah petang. Selesai itu kami akan mandi dan berendam di kolam sambil mengganggu dan menunggangi kerbau yang sedang berkubang. Hi..hi airnya jorok ..aku diteriaki ibuku agar menjauhi kubangan itu, dan berpindah mandi ke air pancuran. Dasar nakal kata ibuku gemas.

Desaku indah sekali, bila musim panen padi tiba aku makin gembira, artinya kerabat dan keluarga akan berkumpul untuk bekerja bergotong royong, suasana ramai yang paling kusukai, mereka semua menyayangiku. Apalagi kakek yang selalu menghibur kalau aku dimarahi ibu. Kakek pasti akan membelaku dan memarahi ibu kembali. Betapa rindunya aku kepada beliau, masih kuingat seringnya kakek membelai kepalaku dan mengatakan aku harus jadi orang bila besar nanti, kakek akan belikan apapun yang kuinginkan, janjinya sambil menyeruput teh pahit dihadapannya, kakek duduk bersila diantara remang lampu petromak dirumah kami, aku pasti dipanggilnya dan diajaknya bercerita.  Kakekku seorang yang sederhana dan baik hati.  Kemanapun kakek pergi selalu membelikanku oleh oleh, kue sagon kesukaanku. Walau kakek tak punya uang, kue itu tak pernah dilupakannya. kata ibu kakek paling menyayangiku dibanding cucunya yang lain, padahal cucunya ada 13 orang masa itu. Ibu bilang aku penurut dan manja seperti anak kucing kalau bersama kekek, he..he ada ada saja. Kakek takut terjadi apa apa denganku. Sayang umur kakek pendek, tak lama setelah aku ikut ayah dan ibu merantau ke Palembang kakek sakit hingga meninggal.  Aku sedih sekali kehilangan kakekku tersayang. Berbeda bila aku bermanja dengannya disbanding dengan ayah atau pamanku, kata ibu Allah lebih sayang kepada kakek, dan aku harus mengiklaskannya. Nenekku juga sudah meninggal dunia, aku juga mengagumi nenek, dia seorang bidan kampung yang dulu membantu kelahiran kami cucunya, aku dibidani oleh nenekku, jadi aku tak punya akte kelahiran asli. Lahir di kampung dan tak tercatat di catatan sipil seperti kalau lair di rumah sakit atau klinik. Nenekku juga sangat baik dan sabar orangnya, semua orang menyukainya, dia sangat penyayang dan welas asih. Kepergian nenek membuat kawan kawannya bersedih dan sangat kehilangan, karena pribadinya yang sederhana dan terpuji.

Aku masih ingin berlama lama menikmati kenangan kecilku saat ini tetapi tiba tiba sudah banyak nyamuk yang menghinggapi lengan dan kakiku, terasa gatal dan pedih, ternyata hari sudah menjelang magrib, terdengar suara orang mengaji dari surau seberang. Hampir 40 menit aku terlena disini. Suara di rumah makin ramai, mungkin adik adikku berebutan mencari sendiri oleh oleh yang mereka minta. Aku ingin mandi dan tidur sejenak melepaskan lelah selama perjalanan. Didalam hati aku bersyukur kepada Allah, sudah tiba dirumah dengan selamat danperjalanan yang aman, lancar tanpa halangan apapun, termasuk anak anak juga menikmatinya.

 

Jam 8 malam kami berangkat dari rumah nenek menuju Bukit tinggi menggunakan mobil , isinya ramai sekali ada sekitar 12 orang. He..he  jalan jalan sekampung. Gembira sekali, rencananya mengisi malam tahun baru di Bukit tinggi yang seru. Ini pengalaman terbaru untuk keluargaku disini,… diajak keliling rame rame dimalam hari.

Setengah jam kemudian, kami sudah tiba di Bukit tinggi, selama perjalanan, adikku ziah yang sedang hamil dan tuti selalu muntah dan mual, ternyata mereka tidak bisa naik kendaraan, entah apa sebabnya,  tampak mereka tidak menikmati perjalanan dengan mobil, maunya dengan motor saja, mana mungkin dimalam yang dingin begini. Bukit tinggi juga dingin seperti padang panjang. Kalau tak menggunakan jaket bisa menggigil kedinginan. Sepanjang jalan kami melihat keramaian orang yang berlalu lalang menikmati malam pergantian tahun baru, ternyata di akhir tahun bukit tinggi ramai diserbu oleh wisatawan lokal.  Hampir semua hotel dan penginapan penuh. Jalan jalanan macet  tiga kali lipat dibanding hari biasanya. Kami tidak bisa memasuki alun alun keramaian, karena jalan menuju kesana di tutup oleh petugas, terlambat datang kesana, tiada pilihan selain berjalan kaki sepanjang 4 km menuju taman kantin , Pusat acara penutupan tahun baru disini. Dari kejauhan kembang api sudah tampak menghiasi langit malam. Menarik sekali dan malam yang sangat ramai.

Makan malam di rumah makan Simpang Raya, makan yang enak dan seru karena udara yang dingin, lahap .kami selalu tertawa dan saling bercerita.

Sekitar jam 2 malam kami pulang kerumah, Selamat Tahun Baru 2009,

Selamat tinggal tahun 2008 yang penuh kenangan dan selamat datang tahun yang penuh harapan dan impian, menyelesaikan mimpi dan janji yang tertunda.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s